Melihat judulnya, mungkin berasa sangat klise ya, kalau nulis tentang ibu hebat, ya Mamah kita sendiri lah orangnya. Padahal sebenernya saya pilih figur mamah saya ini bukan karena alasan subjektif karena semata-semata beliau membesarkan saya dan susah payah ini itu, tapi menurut saya memang beliau adalah sosok wanita yang cetar membahana.

Jadi gini ceritanya. Sekitar sebulan yang lalu, Mamah saya, Ibu Noermijati, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Artinya? Mamah saya sekarang ada Professor nya di depan namanya. Menyusul Papah saya yang juga Professor sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu. Sebenarnya ya, proses Mamah dapat gelar prof ini panjang dan lama. Bahkan lebih panjang dan lebih lama dari proses move-on anak jaman sekarang. Berkas beliau sudah diajukan dari jaman saya masih kuliah s1, dan katanya sempat hilang di kementerian atau di pusat, gitu. Yak, berkas Mamah hilang aja gitu, terus Mamahnya kalau nggak salah disuruh urus ulang :,D Padahal itu berkas ngumpulinnya ngurusinnya aja udah berapa tahun kan ya.. Eh lalu sekian lama kemudian tiba-tiba Mamah dapat kabar gembira, berkasnya tiba-tiba ditemukan :,D Mungkin gedungnya itu semacam kotak sulap: barang masuk bisa ada-hilang-eh ada lagi. Terus diproses lah itu berkas sekian lama, dan akhirnya turun juga gelar Guru Besar mamah!

Guru Besar: guru yang paling besar. Gurunya guru. Tingkatannya di dunia guru sudah mentok paling tinggi. Menurut saya, ini adalah salah satu pencapaian ultimate Mamah, karena passion Mamah, yang saya tahu dan saya lihat dan saya rasakan seumur hidup saya adalah mengajar – menjadi guru –  berada di dunia pendidikan. Saya lihat, Mamah hidup dalam passion nya, bekerja dan bernapas dalam passionnya, dan berjuang dalam passionnya. Tidak banyak orang yang berjuang untuk passionnya. Dan tidak banyak orang yang beruntung untuk berani berjuang demi passionnya.

Mamah berasal dari desa kecil di Tuban, yang sampai sekarang pun masih sangat desa: Kenduruan. Eyang Kung – Eyang Uti saya sudah mengirim Mamah untuk sekolah keluar dari desanya sejak Mamah lulus SD supaya Mamah bisa mendapatkan pendidikan yang baik dan bermasa depan cerah. Sejak SMP Mamah sudah berpisah dengan keluarga untuk bersekolah di Surabaya. Kalau dipikir-pikir, ini adalah pemikiran luar biasa dari Eyang Kung dan Eyang Uti saya yang petani dan pedagang. Anak-anaknya, tanpa terkecuali, semua dikirim ke sekolah-sekolah yang terbaik saat itu, jauh dari mereka. Hoho, berarti Eyang Uti saya juga termasuk di kategori Ibu Cermat Ibu Hebat dong ya!

Saya nggak lihat langsung ya, perjuangan Mamah SMP, SMA, kuliah -yakaleee-. Tapi saya sering mendengar cerita-cerita dari orang ketiga bagaimana Mamah dulu sebelum lulus sudah disuruh jadi dosen di FE UB. Nah, kalau waktu Mamah S2 dan S3 saya inget nih, saya saksi hidup. Mamah S2 nya di Malaysia, satu universitas sama Papah yang waktu itu ambil S3, yaitu di UTM Johor. Beasiswa. Saya sama Adek waktu itu diboyong semua ikut sekolah di sana selama kurang lebih hampir 2 tahun Mamah ambil S2. Dan, yah bisa bayangin dong ya, bawa anak 2 satu TK satu SD kelas 3, rempong-rempong dan banyak drama pula anak-anaknya, sambil kuliah, ngerjakan tugas, ngurusin rumah, masak, nyuci, setrika, beres-beres, bikin jurnal, nulis tesis, suami juga lagi sekolah. Nah saya yang anak satu biji doang kerjanya di rumah nggak sambil kuliah tapi saya rewelnya minta ampun #malu. Terus waktu Mamah S3 seingat saya saya sudah kuliah. Dan lagi-lagi Mamah juga kuliahnya pakai beasiswa. Nah, Papah di sini selalu pegang peranan besar. Sejauh ingatan saya, selama Mamah sekolah, Papah selalu siap bantuin Mamah ngetak ngetik dan ngerjain ini itu. Ibaratnya, kalau Mamah sekolah, Papah juga ikutan sekolah. Hahahaha. Padahal Papahnya waktu itu juga lagi sekolah. Papah haibat!

Nah, yang saya lihat, dikala bersusah-susah berjuang ini, mereka menikmatinya. Ada pegangan kuat yang menuntun mereka mencapai tujuannya. Mamah kuliah sambil nangis darah bawa anak pricil-pricil, kerja dari pagi ketemu pagi, tapi saya melihat kebanyakan hatinya senang. Mamah mengerjakan apa yang disukainya, apa yang menjadi passion dan hobinya. Yang orang lain lihat berat menjadi lebih menyenangkan di mata Mamah. Bukan berarti jadi nggak berat ya,, tapi jadi lebih ringan lah ya kalau dikerjakan dengan hati.

Saya rasa kredo “Follow your passion and you’ll never have to work your whole life” berlaku di Mamah saya, dan di wanita-wanita hebat di luar sana yang berani mengejar passionnya. Pelajaran yang besar yang diberikan Mamah saya untuk anak-anaknya:

Saya sebagai anak ya pasti lah bangga ya. Sekaligus ada rasa mencelos di hati saya. Sepanjang acara pengukuhan Guru Besar nya Mamah, seperti ada yang noyor-noyor kepala saya sambil nanya “Woi, nah kamu passionnya apa? Nah kamu mau kamu apain itu passion? Terus nanti Amora kamu contohin apa?” Hahaha, saya misek-misek dulu lah sebentar di pojokan sebelum jawabin pertanyaan-pertanyaannya :,D

amora di pengukuhan uti

Amora, Follow Your Passion and Fly High!

primipuspita pengukuhan profesor noermijati

primipuspita pengukuhan profesor noermijati

primipuspita pengukuhan profesor noermijati

primipuspita pengukuhan profesor noermijati

 

Anyways, buat wanita-wanita di luar sana yang sudah tahu passion nya tapi butuh dukungan lebih, bisa cek pinjam.co.id lho.. mereka nggak cuma bantu kasih pinjaman modal aja, tapi juga ada motivational support, karena salah satu visi mereka adalah menguatkan bisnis UMKM di Indonesia. See!