Kemarin, waktu Amora umur 22 bulan, saya sudah sempat mau mulai menyapih. Sedih dan nggak tega waktu itu karena berasa belum waktunya. Cuma maunya sih dimulai diajarin berpisah sama mimiknya sedikit-sedikit. Ceritanya mau menerapkan weaning with love. Ala ala. Hahaha.

Caranya, waktu itu setiap mau tidur dikasih tahu kalau nanti Amora umur 2 tahun, Amora sudah nggak mimik mama lagi. Dan voilaaa hasilnya dia makin nempel sama mimiknya 😀 Lalu saya kurangi jatahnya pelan-pelan. Dulu yang bisa tiap satu jam sekali atau tiap dia panik atau insecure bisa minta mimik -Iyak. Sejam sekali- akhirnya dibatasi tinggal kalau mau tidur doang. Apa yang terjadi? Apakah Amora berhasil melewatinya? Haizz yang ada Amora pura-pura mau bobok kalau lagi pengen mimik ASI. Dia histeris bilang ngantuk dan mau bobok. Bobok beneran kalau dimimikin? Tentu tidaaak… dia bohongin mamahnya :’D Kalau sudah puas mimiknya dia langsung bangun lagi, turun kasur, dan dia bilang “Amora kabur…”

Ah,, anak siapa ini.

Lalu, mulailah dia dengan drama gigit menggigit. Sakitnya seperti dikhianati.

Akhirnya saat mimiknya berdarah, si papahnya mulai turun tangan. Mimik pun harus ditetesin propolis. Harusnya sih awalnya niatnya supaya sembuh, eh sekalian tes anaknya jadi mau terus mimik atau nggak.

Awalnya sih Amora kaget  kok rasanya aneh kali ya. Terus dia jadi nggak mau. Tapi nggak bertahan lama sih, malamnya dia nangis “mama, mimiknya bersihin” kata dia. Waktu sayanya diam saja, dia tatap mimiknya dalam-dalam. Seperti orang lagi ngumpulin tekad gitu. Lalu beberapa detik kemudian, dimimik! Jadi dia waktu itu mungkin merasa, pahit pahit deh, yang penting mimik, yang penting bobok! Akhirnya, mama papa nya pun menyerah. Nggak tega.

Berikutnya, sudah 23,5 bulan. Drama gigitnya dilanjutin lagi. Sekarang malah lebih parah, setiap mimik pasti gigit. Dia nggak gigit kalau lagi mimik sambil bobok diang. Misalnya pas lagi kebangun di tengah tidur siang atau malamnya. Saya jadi parno kalau dia minta mimik. Yakali itu gigi kecil-kecil gigit jari saya aja bekasnya dalam banget. Apalagi ini mimiknya digigit sampai berdarah. Nangis :,) Yang epic, kalau habis gigit dimarahi dia senyum-senyum terus ketawa-ketawa. Haisss.

Akhirnya saya bilang mimiknya luka, Amora gigit, jadi Amora nggak bisa mimik lagi. Nah, dia kan sadar diri tuh, jadi nggak terlalu maksa. Cuma dia minta bukti, harus lihat mimiknya dulu gitu, jadi dicek beneran luka apa nggak 😀 Tapi ini awal dari drama tantrum. Secara biasanya dia dikit-dikit mimik mama dikit-dikit mimik mama kan ya, apalagi mau tidur, jadi pas mau tidur, pas lagi insecure, pas lagi capek, ngamuklah dia gara-gara mimiknya luka 😀

Amora tantrumnya lumayan. Lumayan melelahkan. Dia tipe anak histeris, kosel-kosel kaki sampai lecet semua, badannya dibanting-banting. Bisa tuh dia siapin diri, duduk dulu sebentar supaya banting badannya lebih drama gitu. Duh, anakku, kalah Ganteng-Ganteng Serigala.

Butuh berhari-hari buat biasain Amora lepas dari mimik sebelum tidur. Rasanya sih kayak punya newborn lagi, mau tidur harus digendongin, ditimang-timang. Kalau dia ngamuk tetep keukeuh minta mimik, kita juga tetep keukeuh gendongin dan timang-timang. Kadang dikusuk-kusuk, kadang diajak dengerin ngaji, kadang diceritain dongeng. Tapi kalau diceritain dongeng yang ada conversationnya begini:

Mama: “Amora, mama ceritain harimau ya?”

Amora: “Mama, harimaunya mimik!”

Kadang diajak nonton video (favoritnya terbaru: minta nonton All About That Bass sebelum bobok –‘ ). Sekitar jam 11 ke atas beberapa hari ini saya baru berhasil menidurkan Amora tanpa mimik. Setelah dia berhasil bobok, rasanya di belakang saya sayup-sayup ada yang nyanyi We Are The Champion sambil lempar-lempar confetti. Yeah! banget gitu.

Tapi ternyata dramanya belum usai, ibu-ibu. Ternyata yang susah bukannya nyapih mau tidur, tapi nyapih waktu lagi tidur. Huhuhuhu. Dia ini kan suka kebangun sebentar-sebentar. Biasanya minta mimik. Nah, kalau sekarang dia dikasih dot ogah, dikasih apa-apa ogah, jadi solusinya ya digendong-gendong lagi, sambil tantrum tengah malam. Kenapa lebih drama? Karena hayati sudah lelah. Kadang kalau sudah mau subuh Amora kumat, masih saya kasih mimik. Soalnya saya nya sudah nggak kuat lagi.

Duh. Tekadmu mana anak muda .

Sebenernya bangun tengah malam ini bisa diminimalisir dengan nyekokin Amora makan sebelum bobok sih. Dikenyang-kenyangin dulu. Biasanya kalau dia jam 10an makan lagi, dia baru bangun minta mimik jam 6an pagi. Tapi ternyata ini juga nggak semudah nampaknya. Dianya nggak mesti mau. oh iya, fyi, Amora nggak doyan susu. Doyannya esgreeeeem. Jadi nggak ada tuh yang bisa dibikinin susu terus dikenyangin susu sebelum tidur.

Sekarang Amora sudah 2 tahun 4 hari, progressnya, dia mimiknya sehari tinggal sekali dua kali doang, waktu kebangun dini hari, waktu saya sudah nggak kuasa gendong-gendong lagi. Masih tantrum menjelang bobok dan waktu kebangun, karena masih nyari mimik. Sempat saya kuningin mimiknya pakai kunyit biar beneran nggak mau, tapi dia baru lihat doang sih, belum nyobain, terus saya nya lost motivation buat ngunyitin lagi, karena bajunya kena kuning-kuning :'( Duh. Ibu yang mudah menyerah.

Terus kalau kebangun bobok siang tantrum nya masih heboh banget, requestnya masih banyak (minta nonton ini itu, minta pakai gelang, minta pegang finger puppet, minta surprise egg, sambil gulung-gulung), dan rada musuhin saya. Sekarang dia nyari papahnya terus. Sedih sih. Tapi….

Tapi Alhamdulillah banget, kalau diingat-ingat gimana bergantungnya Amora sama mimiknya, bisa bobok tanpa mimik adalah prestasi luar biasa :’) Bisa seharian nggak nyari mimik itu rasanya kayak habis nge-deal-in order massal dari desainer luar negeri terus orangnya iya-iya aja dan bayarnya lancar 😀

Semangat ya nak, sapihnya.. saya tahu, proses ini nggak cuma berat di saya, pasti di Amora jatuhnya lebih berat lagi. Dia kehilangan sumber kenyamanan utama sedari lahir. Tapi, bismillah ya nak.. thats life. Mimiknya sudah cukup 2 tahun, sekarang Amora waktunya belajar yang lain lagi..