Cita-cita sayaapa?

Banyak…

Dulu waktu SD cita-cita sayapenyiar radio, tapi nggak kesampaian, kesampaiannya jadi penyiar TV lokal 😀

Terus waktu kecil pernah pengen punya kios majalah biar bisa baca semua majalah yang baru terbit 😀

Terus pernah juga pas SMA pengen jadi chef. Boro-boro… Sampai sekarang aja kalau disuruh masak bawaannya puyeng 😀

Pernah juga pengen jadi jurnalis, pengen kerja di fashion magazine, atau yang punya fashion magazine, pengen jadi desainer (sampai bela-belain ngeMC siang malam demi sekolah desain abal-abal), pengen pindah kewarganegaraan (yes, itu cita-cita!), pengen fashion show koleksi sendiri (done! accomplished!), pengen jadi pengusaha yang kaya raya yang kalau mau apa nggak pakai mikir-mikir lagi…

Banyak. Banget. Tapi ada silver liningnya: nggak ada cita-cita kerja kantoran.

Pernah nyoba sekali kerja kantoran dan nggak bertahan :’)

Waktu itu saya -I’m a biatch you don’t want to work with- type of employee. Well I was only 22  😀

 

Anyways. Saya pernah ikutan personality test mainan di forum online waktu SMA. Hasilnya saya adalah The Purple Panther. Saya lupa isi persisnya apa, tapi intinya kalau tentang profesi, I’m a free spirited person dan suka kesibukan di luar. Pergi sana pergi sini. Ketemu sana ketemu sini. Dan menurut personality test tersebut seingat saya, saya cocokya jadi jurnalis, business woman, dan yang memper-memper gitu lah… A 100% (or maybe 150%) a career woman. Katanya nggak cocok sama sekali jadi ibu rumah tangga. Waktu itu saya ketawa. Dan beberapa tahun lalu kalau ingat-ingat tes itu masih ketawa. Saya merasa tes itu tepat sekali, dan saya ketawanya itu ketawa “Ya iyalah… masa iya saya jadi ibu rumah tangga aja”.

And here we go… Saya SAHM -Stay At Home Mom-. SAH -Sah-.

Saya berbisnis dari rumah, but still I don’t see that sufficient. I can’t do much to explore. Karena saya juga nggak dapat surat izin mengemudi. Then my business is slower than I imagine it should be. It should be rocket-fast business.

Saya dibesarkan oleh Super Mama. Yang jarang di rumah, tapi somehow asisten-asisten nya selalu termanage sehingga anak-anak dan suami nya baik-baik saja. Lebih dari baik-baik saja. Kami dibesarkan untuk menjadi orang besar. Saya tumbuh dengan melihat Mama meniti karirnya sebagai dosen yang luar biasa. Beliau Doktor sekarang, sedang menunggu gelar Guru Besar diturunkan pemerintah. Beliau terbang kesana kemari memberi good impact pada orang lain. Beliau disukai oleh mereka. Beliau adalah wanita yang hebat. Beliau adalah wanita karir yang luar biasa.

Gambaran inilah yang selalu tertanam di benak saya tentang seorang wanita. Wanita kami berkarya. Wanita kami berguna untuk masyarakatnya. Otomatis beginilah saya terdidik: wanita mandiri. Well.. I made money since high school. And I made a lot.

I’m supposed to be Hillary Clinton, or Angelina Jolie, or Paris Hilton, or Margaret Thatcher. Or my Mom.

 

Don’t get me wrong. Jadi SAHM itu susahnya ampun ampunan. Saya sangat kagum sama teman-teman saya yang memilih untuk menjadi SAHM yang sangat berdedikasi. Susah, puyeng, dan puyeng. Mungkin itu kali ya, karena hati saya kurang berdedikasi, jadi susah. My body and mind is here and my soul is wandering out there.

Jadi, mari kita belajar untuk mengerjakan sesuatunya dengan sepenuh hati dan seringan hati. Maybe not now, maybe later…

Ah… Cita-cita saya.. apa ya sekarang?

 

-I miss driving around doing big deals 😉 –